Jraedutalk – Panitia Polytron Indonesia Open 2026 mengambil langkah berbeda dalam penyelenggaraan tahun ini. Harga tiket sengaja dirancang lebih terjangkau agar semakin banyak masyarakat dapat merasakan atmosfer pertandingan secara langsung di Istora Gelora Bung Karno pada 2–7 Juni 2026.
Ketua Panitia Pelaksana, Achmad Budiharto, menegaskan bahwa kebijakan ini menjadi bagian dari upaya membuka akses lebih luas bagi para pencinta bulu tangkis di Tanah Air.
Dengan harga yang lebih bersahabat, diharapkan tidak hanya penonton setia, tetapi juga masyarakat umum bisa turut hadir dan meramaikan turnamen.
“Kami ingin tiket ini bersahabat dengan kantong. Harapannya, makin banyak pencinta bulu tangkis yang bisa datang langsung ke arena,” ujar Budiharto dikutip dari Antara.
Pada hari pembuka, tiket dijual mulai Rp40.000 untuk kategori 3 (pre-sale), menjadikannya salah satu harga paling rendah dalam penyelenggaraan turnamen level BWF World Tour Super 1000. Sementara itu, kategori 1 pada hari yang sama berada di kisaran Rp120.000 hingga Rp150.000.
Seiring meningkatnya fase pertandingan, harga tiket juga menyesuaikan. Babak 16 besar dibanderol mulai Rp80.000 hingga Rp350.000, lalu perempat final dari Rp120.000 sampai Rp500.000.
Untuk semifinal, harga tiket berada di rentang Rp200.000 hingga Rp750.000, sedangkan final dijual mulai Rp280.000 hingga Rp850.000.
Selain tiket harian, panitia menyediakan paket terusan sebagai opsi ekonomis bagi penonton. Paket enam hari ditawarkan mulai Rp675.000 hingga Rp2.400.000, sedangkan paket tiga hari terakhir dibanderol dari Rp575.000 sampai Rp1.900.000.
Panitia juga menghadirkan pilihan pre-sale dan reguler untuk memberikan fleksibilitas dalam pembelian tiket.
Dengan pendekatan harga yang lebih inklusif ini, Indonesia Open 2026 tidak hanya diharapkan menjadi ajang olahraga kelas dunia, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan bagi masyarakat luas untuk menikmati bulu tangkis secara langsung dari tribun.
“Kami ingin menghadirkan suasana seperti pesta rakyat bulu tangkis, tetapi dengan level yang berbeda. Penonton tidak hanya datang untuk menonton, tetapi juga bisa merasakan pengalaman yang lebih dekat dan interaktif,” ujar Budiharto.(*)