Jraedutalk Rumor mengenai gugurnya sang ikon perlawanan, Mahmoud Ahmadinejad, akhirnya terpatahkan. Mantan Presiden Republik Islam Iran periode 2005-2013 itu dipastikan masih bernapas dan dalam kondisi sehat walafiat. Kabar ini sekaligus menganulir spekulasi liar yang menyebutkan sang ‘Presiden Rakyat’ tewas dalam gelombang pertama serangan udara gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel akhir pekan lalu.
Meski Teheran digempur habis-habisan oleh armada Zionis dan Washington sejak Sabtu (28/2/2026), Ahmadinejad dilaporkan lolos dari maut tanpa kekurangan suatu apa pun. Padahal, agresi berskala besar yang dideklarasikan Donald Trump itu secara spesifik menargetkan tokoh-tokoh kunci dan infrastruktur militer Iran di hari pertama penyerangan.
Nyaris Terkena Rudal di Narmak
Laporan dari Anadolu Agency menyebutkan, Ahmadinejad memang berada di radar target utama. Salah seorang ajudan pribadinya mengonfirmasi bahwa mereka telah berkomunikasi langsung dan memastikan kondisi sang mantan presiden baik-baik saja. Namun, maut sebenarnya sempat berada dalam jarak yang sangat tipis.
“Saya sudah berbicara dengannya. Semuanya aman,” ujar sumber tersebut kepada Anadolu, Rabu (4/3/2026).
Sumber itu membeberkan fakta mengerikan: rudal AS-Israel menghantam sebuah bangunan yang berfungsi sebagai pos pengawal keamanan Ahmadinejad di kawasan Narmak, timur laut Teheran. Titik ledakan dilaporkan hanya berjarak kurang dari 100 meter dari posisi Ahmadinejad berada.
Serangan presisi itu menewaskan seorang pengawal dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), namun Ahmadinejad sendiri tidak tergores sedikit pun.
Ikon Perlawanan yang tak Terhapus
Lolosnya Ahmadinejad menjadi catatan penting di tengah kekacauan geopolitik Timur Tengah saat ini. Sosok yang dikenal sederhana dan selalu mengenakan jaket murah ini adalah musuh bebuyutan Israel dan Barat.
Sejak memimpin Iran tahun 2005, ia konsisten dengan retorika kerasnya: menghapus Zionis dari peta dunia dan mempertanyakan narasi sejarah Holocaust.
Bagi Washington dan Tel Aviv, melenyapkan Ahmadinejad—meski ia sudah tidak menjabat sebagai presiden—adalah simbol peruntuhan mental perlawanan rakyat Iran. Namun, keberadaannya yang masih hidup justru menjadi suntikan moral bagi Teheran di saat mereka kehilangan Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan yang sama.
Di Washington, Donald Trump dengan gaya khasnya mengumumkan bahwa operasi militer ini adalah langkah untuk ‘menghilangkan ancaman’ dari rezim yang ia sebut sebagai kelompok jahat. Trump menegaskan bahwa AS tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir, sebuah alasan klasik yang kembali diputar untuk melegitimasi agresi terbuka.
Serangan ini bukan gertakan sambal. Ledakan hebat mengguncang Teheran, Qom, Isfahan, hingga Karaj. CNN melaporkan bahwa Pentagon berencana melanjutkan serangan selama berhari-hari untuk memastikan kekuatan militer Iran benar-benar lumpuh.
Di sisi lain, Israel telah menutup total wilayah udaranya, meliburkan sekolah, dan menginstruksikan warganya untuk bersembunyi di ruang bawah tanah. (*)