“Sampaikan segala sesuatu itu dengan penuh tanggung jawab juga, kemudian juga mengedepankan etika, adab ketimuran. Hindarilah menggunakan kata-kata yang tidak sopan atau kurang baik,” ujar Prasetyo di Gedung DPR (18/2/2026).
Pernyataan ini justru memicu perdebatan baru di media sosial. Banyak yang menilai pemerintah lebih fokus pada “sopan santun” pengkritik daripada substansi kritik atau ancaman keselamatan yang nyata.
Di sisi lain, pihak kampus UGM melalui Juru Bicara I Made Andi Arsana menegaskan posisi mereka untuk melindungi Tiyo. Tim K5L UGM telah dikerahkan untuk melakukan pengawasan demi menjamin keselamatan sang Ketua BEM.
Riuh Netizen: “Suara Kebenaran Tak Boleh Bungkam”
Pantauan di kolom komentar media sosial menunjukkan pembelahan opini yang tajam, namun dukungan terhadap Tiyo mengalir deras. Konten-konten footage Tiyo saat berorasi atau diwawancarai seringkali dibubuhi musik emosional atau transisi ala konten aktivis masa kini.
Berikut beberapa komentar yang mendulang banyak likes:
- “MUDA, BERANI, PINTAR, JAGOAN. Jempol buat abang ini. Semoga konsisten menyuarakan kebenaran,” tulis seorang netizen di TikTok.
- “Anak kecil aja tau. Kok ratusan orang di pemerintahan ga tau? Apa pura-pura ga tau,” sindir akun lainnya.
- “Doa kami menyertai, semoga beliau selalu dalam lindungan-Nya. Ada masanya kezaliman akan tumbang,” tulis netizen di platform X.
Kesimpulan: Ujian Demokrasi di Meja Makan
Kasus Tiyo Ardianto adalah potret nyata bagaimana sebuah kebijakan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya diuji secara logistik, tapi juga secara demokratis. Bagi Tiyo, pendidikan tetap harus menjadi prioritas utama di atas program makan gratis yang rawan korupsi.
Kini, publik menunggu: apakah suara dari “anak Paket C” asal Kudus ini akan didengar sebagai masukan berharga, atau justru akan terus diredam oleh suara-suara gelap di balik layar ponsel? Satu yang pasti, Tiyo telah membuktikan bahwa dari Omah Dongeng, seseorang bisa mengguncang panggung politik nasional. (*)
Sumber : diambil dari berbagai sumber