Oleh : Januar Fahmi ( Jurnalis RRI )
Jraedutalk – Di saat seorang warga meregang nyawa akibat jalan berlubang yang tak kunjung diperbaiki, publik justru disuguhi pemandangan kontras: pejabat daerah Sekda Sidoarjo CS berpesta dalam kemewahan acara buka puasa bersama yang glamor.
Kontras ini bukan sekadar soal selera acara atau tema perayaan, melainkan soal sensitivitas moral seorang pemimpin terhadap penderitaan rakyatnya.
Ketika rakyat menghadapi ancaman di jalan rusak setiap hari, pesta megah bernuansa glamor justru menampilkan kesan bahwa penderitaan publik bukan prioritas. Bukan berarti pejabat tak boleh berkegiatan seremonial, namun sense of crisis seharusnya menjadi kompas utama dalam setiap tindakan pemimpin.
Sebab ketika rakyat berduka dan pemerintah terlihat berpesta, yang muncul bukan rasa hormat, melainkan pertanyaan besar: masihkah empati menjadi bagian dari kepemimpinan, atau telah tenggelam di balik gemerlap kekuasaan?